IMPLIKASI OTONOMI DAERAH TERHADAP PERUBAHAN LAHAN BERDASARKAN DATA PENGINDERAAN JAUH

Tri Muji Susantoro

Abstract


Regional development in the era of autonomy have implications for land use change, primarily related to natural resource management and settlement development. In the case study in Samarinda and surrounding areas using Landsat 7 ETM + year 2001 and ASTER Year 2009 obtained data on large enough of land use change in the plantation, mining and settlements as well as an increase in sport facilities with the construction of two stadiums. The plantation have the addition of wide around 16.950,30 hectares. The addition of plantation is caused by the opening oil palm plantations that converts the forest, bareland and shrubs. Settlements is increasing widely from the existing locations. Coal mining is increasing after regional autonomy. The location of coal concession (KP) and Coal Contracts of Works (PKP2B) are spreading around the city of Samarinda. Based on the interpretation of Landsat 7 ETM + of year 2001, the wide of coal mining area is 6.256,82 hectares and in the year 2009 based on ASTER interpretation was increased to 17.221,60 hectares or increased about 10.964,86 hectares. Water body such as lakes, dams or slicks in the year 2001 have an area about 524.69 hectares and in the year 2009 increased 364.09 hectares. Water body in Landsat imagery in year 2001 which located at the coal mining area about 373.27 hectares. The open mining of coal is making many slicks of ex-mining location. Despitfully, the landscape changes and the possibility of erosion that can make the river more shallow and the collapse of the slope at ex-mining areas.

Keywords: Landsat 7ETM+, ASTER, regional Autonomy, Coal mining, Wide change.

ABSTRAK

Perkembangan daerah pada era otonomi mempunyai implikasi terhadap perubahan lahan, terutama terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan perkembangan permukiman. Pada studi kasus di Kota Samarinda dan sekitarnya dengan menggunakan Citra Landsat 7ETM+ Tahun 2001 dan ASTER Tahun 2009 diperoleh data mengenai perubahan lahan yang cukup besar di sektor perkebunan, pertambangan dan permukiman serta adanya peningkatan fasilitas olahraga dengan dibangunnya dua stadion. Perkebunan mengalami penambahan luas mencapai 16,950.30 Ha yaitu dengan dibukanya perkebunan kelapa sawit yang mengkonversi hutan, tanah terbuka dan semak belukar. Permukiman mengalami penambahan luas yang berkembang dari lokasi yang sudah ada. Pertambangan batubara semakin meningkat dengan adanya otonomi daerah. Lokasi Kuasa Pertambangan (KP) dan PKP2B batubara menyebar di mengelilingi kota Samarinda. Berdasarkan interpretasi citra landsat 7ETM+, pada tahun 2001 tambang batubara existing seluas 6.256,82 hektar, sedangkan pada tahun 2009 berdasarkan citra ASTER bertambah menjadi 17.221,69 hektar atau bertambah sekitar 10.964,86 hektar. Tubuh air berupa danau, waduk atau genangan pada tahun 2001 mempunyai luas 524.69 hektar dan pada tahun 2009 bertambah 364.09 hektar menjadi 888.78 hektar. Tubuh air pada citra landsat tahun 2001 yang berada di lokasi tambang batubara seluas 373.27 Hektar. Adanya penambangan batubara yang bersifat terbuka maka meninggalkan banyak bekas tambang yang berubah menjadi genangan air. Disamping perubahan bentang alam dan kemungkinan erosi yang dapat menyebabkan pendangkalan sungai serta keruntuhan lereng pada daerah bekas pertambangan

Kata Kunci: Landsat 7ETM+, ASTER, Otonomi Daerah, Pertambangan Batubara, Perubahan Luas.


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 116 times
PDF - 89 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2015 JURNAL ILMIAH GEOMATIKA

Geomatika Indexed by:

 

Copyright of Geomatika