UJI GEOSPASIAL PROVINSI KEPULAUAN DI INDONESIA PASCA BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 2014

Fahrul Hidayat, Sobar Sutisna

Abstract


UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah telah ditetapkan pada tanggal 29 September 2014, dan menggantikan UU No. 32/2004. Berbeda dengan UU No. 32/2004, pada UU No. 23/2014 dengan jelas dan tegas diperkenalkan dua macam (kelompok) daerah provinsi, yaitu provinsi pada umumnya dan provinsi yang berciri kepulauan. Pertanyaannya adalah mana-mana saja yang dapat disebut provinsi kepulauan dan mana yang bukan berciri kepulauan menurut ketentuan Pasal 1 butir 19 UU No. 23/2014. Diperlukan metode perhitungan yang cermat dan akurat dimana data geospasial yang andal dan memadai sangat menentukan sehingga data geospasial “seamless” peta NKRI Edisi 2014 yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) digunakan dalam penelitian ini. Metode perhitungan luas wilayah (darat dan laut) dilakukan menggunakan perangkat lunak pendukung analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Input data berupa koordinat geografis titik-titik poligon batas wilayah termasuk poligon batas wilayah laut yang dikonstruksi berdasarkan definisi alokasi batas laut provinsi menurut ketentuan Pasal 14 dan 17 UU No. 23/2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 provinsi dinyatakan secara geospasial memenuhi kriteria definisi provinsi kepulauan sesuasi Pasal 1 butir 19 UU No. 23/2014. Sedangkan 18 provinsi lainnya dinyatakan tidak memenuhi kriteria definisi sebagai provinsi kepulauan.

Kata Kunci: uji geospasial, provinsi kepulauan, UU No. 23/2014, Pemerintahan Daerah, Indonesia

ABSTRACT

The provision of the Republic Act Nr. 23/2014 (UU-RI No. 23/2014) concerning Local Government enacted since 29 September 2014 is replacing the UU No. 32/2004. One of interested geospatial aspect in the revision is that the UU No. 23/2014 differenciating two types of provinces, i.e province in common type and archipelagic province in character type. The question addressed in this research is which provinces are regarded as archipelagic province in character and how to test its suitable geospatially in acordance to Point 19 of Article 1 UU No. 23/2014.. This research requires accurate geospatial data and computation method in testing and analysis it, so that the seamless NKRI Map 2014th edition of Geospatial Information Agency (BIG) data are used in this research. A computation method for calculating the land and marine areas of a province were carried out using the GIS software. Input data for area calculation is geographical coordinates of polygon points of a province boundaries include the marine boundary polygon of province which had been constructed first based on marine alocation definition in accordance to Articles 14 and 17 of UU No. 23/2014. The outcome of this research show that 16 provinces are geospatially fulfill the definition of archipelagic province criteria as stipulated in Article 1 point 19 UU No. 23/2014. While the other 18 provinces failed the geospatial test criteria. 

Keywords: geospatial test, archipelagic province, UU No. 23/2014, Local Governance, Indonesia


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 418 times
PDF - 356 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2015 JURNAL ILMIAH GEOMATIKA

Geomatika Indexed by:

 

Copyright of Geomatika